Kunci Budidaya Bawang Merah agar Produksi Optimal
KebunNews.com – Langkah pertama dimulai dari pemilihan varietas dan bibit. Petani dapat menggunakan varietas yang sesuai dengan kondisi setempat, seperti Bima Brebes, Maja Cipanas atau Tajuk. Bibit sebaiknya sehat, bernas, segar dan seragam.
Dilansir dari situs Kementerian Pertanian, umbi yang digunakan sebagai bibit idealnya berukuran 3–5 gram dan telah disimpan sekitar 2–4 bulan. Informasi ini dikutip pada Senin (14/9/ 2026). Kondisi lahan menjadi fondasi berikutnya. Tanah perlu diolah sedalam 20–30 cm, dibuat bedengan dan memiliki drainase yang baik.
Kisaran pH yang sesuai untuk bawang merah berada di 5,6–6,5. Jika tanah terlalu masam, perbaikan pH dapat dilakukan menggunakan dolomit sesuai kondisi tanah. Sementara pemupukan perlu dilakukan secara tepat jenis, dosis, waktu dan cara.
Pemberian secara bertahap dapat membantu menyesuaikan ketersediaan unsur hara dengan kebutuhan tanaman serta mengurangi risiko kehilangan nutrisi akibat pencucian air.
Pengairan perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan dan musim. Saat kemarau, tanaman membutuhkan penyiraman yang cukup. Sebaliknya, pada musim hujan, drainase harus diperkuat untuk mencegah genangan.
Kementerian Pertanian juga mengingatkan sejumlah organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dapat menyerang bawang merah, seperti trips, pengorok daun, Fusarium dan antraknosa. Karena itu, pemantauan tanaman secara rutin penting dilakukan agar serangan dapat dikendalikan sejak dini.
Tanaman siap dipanen ketika sekitar 80% daun telah rebah dan menguning, leher batang mulai lunak dan umbi telah berkembang optimal. Setelah dicabut, bawang perlu dikeringkan sebelum disimpan atau dipasarkan. Penjemuran dapat dilakukan secara bertahap hingga umbi dan kulit luarnya cukup kering.
Kementerian Pertanian menyebut proses penjemuran dapat berlangsung sekitar 5–7 hari, kemudian dilanjutkan tahap berikutnya selama 2–3 hari, tergantung kondisi cuaca. Pada akhirnya, hasil bawang merah ditentukan sejak awal budidaya.
Bibit yang tepat, lahan yang sehat, pemupukan efisien, pengairan terkendali dan pascapanen yang baik menjadi kunci untuk menghasilkan umbi berkualitas sekaligus menekan kehilangan hasil.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles