Indonesia Kaya Kelapa, Petani Justru Dihadapkan pada Harga Rp1.800 per Kg

Budidaya 01 Sep 2026 00:35 2 min read 101 views By Zulrajab Fajar Arifin

Share berita ini

Indonesia Kaya Kelapa, Petani Justru Dihadapkan pada Harga Rp1.800 per Kg
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, tetapi besarnya potensi “emas hijau” tersebut belum sepenuhnya mampu menyejahterakan petani yang kini menghadapi anjloknya harga di tingkat produksi.

KebunNews.com – Indonesia terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Dengan produksi mencapai belasan juta ton setiap tahun, kelapa menjadi komoditas strategis yang menopang perekonomian masyarakat sekaligus memiliki peluang besar di pasar ekspor.


‎Komoditas yang dikenal sebagai tree of life atau pohon kehidupan ini memiliki nilai ekonomi yang besar. Selain menjadi sumber penghidupan masyarakat di berbagai daerah, produk turunan kelapa semakin diminati pasar global seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat.


Berdasarkan data Statistik Perkebunan Indonesia yang dirilis Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan diakses pada 31 Agustus 2026, sekitar 98 persen perkebunan kelapa di Indonesia dikelola oleh perkebunan rakyat atau petani swadaya.


‎Besarnya peran petani rakyat menjadikan kelapa sebagai salah satu penopang perekonomian masyarakat di berbagai daerah. Riau, Sulawesi Utara, dan Jawa Tengah menjadi sejumlah wilayah yang memiliki peran penting dalam produksi kelapa nasional.


Di sisi lain, peluang industri kelapa Indonesia semakin terbuka melalui meningkatnya permintaan dunia terhadap produk olahan bernilai tambah. Produk seperti Virgin Coconut Oil (VCO), gula kelapa, dan berbagai produk organik memiliki potensi besar di pasar internasional. ‎


Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, dalam siaran pers resminya yang dikutip pada Selasa (1/9/26) 2026, menyebut permintaan terhadap produk turunan kelapa terus meningkat.


Indonesia pun didorong untuk memperkuat hilirisasi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. ‎Namun, besarnya potensi industri kelapa belum sepenuhnya dirasakan oleh para petani.


Dalam beberapa bulan terakhir, harga kelapa di tingkat petani dilaporkan mengalami penurunan hingga sekitar Rp1.800 per kilogram. ‎ ‎Kondisi tersebut mendorong Perkumpulan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) mendesak pemerintah untuk menetapkan harga dasar atau harga acuan bawah.


Kebijakan ini dinilai penting untuk melindungi petani dari kerugian akibat rendahnya harga jual. ‎ ‎Ketua Umum PERPEKINDO, Muhaemin Tallo, mengatakan harga Rp1.800 per kilogram tidak lagi sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan petani.


“Harus ada regulasi harga dasar dari pemerintah agar petani tidak terus-menerus dirugikan,” tegas Muhaemin di kutip Selasa (1/9/26).


‎PERPEKINDO berharap pemerintah segera memperbaiki tata niaga dan memperkuat hilirisasi kelapa nasional. Dengan pengelolaan yang lebih baik, potensi “emas hijau” Indonesia diharapkan tidak hanya menguntungkan industri dan pasar ekspor, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan jutaan petani kelapa di berbagai daerah.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kebun News