Praktisi Ungkap Potensi Bisnis Aren, Bisa Raup Miliaran Rupiah per Tahun

Berita 20 Aug 2026 02:55 3 min read 183 views By Adhita Diansyavira

Share berita ini

Praktisi Ungkap Potensi Bisnis Aren, Bisa Raup Miliaran Rupiah per Tahun
Tanaman aren dinilai memiliki prospek bisnis yang menjanjikan dan mampu menjadi sumber pendapatan tunai bagi pekebun. Heru, praktisi aren asal Rejang Lebong, Bengkulu, menyebut potensi pendapatan dapat dioptimalkan sejak masa tunggu melalui tanaman sela hingga pengolahan nira menjadi gula merah dan gula semut yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

KebunNews.com — Tanaman aren dinilai memiliki prospek bisnis yang menjanjikan apabila dikelola dengan pola budidaya dan akses pasar yang tepat.


Heru, petani sekaligus praktisi aren asal Rejang Lebong, Bengkulu, mengatakan anggapan bahwa bisnis aren membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan pendapatan tidak sepenuhnya benar.


“Banyak yang menganggap bisnis aren tidak menarik karena membutuhkan waktu lama sampai menghasilkan. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, aren ini benar-benar bisa menjadi komoditas yang menghasilkan cash money,” ujar Heru, Kamis (20/8/26).


Menurut Heru, dalam satu hektare perkebunan aren dapat ditanam sekitar 420 batang dengan jarak tanam 4 x 6 meter. Dengan luasan tiga hektare, jumlah tanaman dapat mencapai sekitar 1.000 batang untuk memudahkan perhitungan.


“Kalau menggunakan varietas Simulen, kita membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun sampai bisa dideres, dengan umur produktif sekitar 20 tahun. Sementara untuk aren genjah, sekitar lima tahun sudah bisa dideres dan masa produktifnya bisa sampai 18 tahun,” jelasnya.


Heru mengatakan, masa tunggu sebelum aren memasuki fase produksi juga dapat dimanfaatkan pekebun untuk memperoleh pendapatan dari tanaman sela. Beberapa tanaman yang dapat dibudidayakan antara lain pisang, pepaya, rumput gajah dan kopi. Namun, penggunaan tanaman sela perlu memperhatikan populasi aren karena dapat mengurangi jumlah tanaman utama.


“Selama aren belum menghasilkan, kita bisa memanfaatkan lahan untuk tanaman seperti pisang, pepaya, rumput gajah atau kopi. Memang ada konsekuensinya, populasi aren bisa berkurang, misalnya sekitar 100 batang per hektare,” katanya.


Ia mencontohkan penanaman pisang Ambon dengan populasi sekitar 300 batang per hektare. Tanaman tersebut dapat mulai menghasilkan dalam waktu sekitar 10 hingga 11 bulan. Dengan harga pisang sekitar Rp2.500 per kilogram dan bobot satu tandan mencapai 30 kilogram, setiap batang berpotensi menghasilkan sekitar Rp75.000.


“Kalau kita punya tiga hektare dengan populasi sekitar 900 batang pisang, potensi pendapatannya bisa mencapai Rp67,5 juta. Ini bisa menjadi alternatif pendapatan sebelum tanaman aren menghasilkan,” tutur Heru.


Sementara ketika aren telah memasuki masa produksi, potensi pendapatannya jauh lebih besar. Menurut Heru, satu pohon aren rata-rata dapat menghasilkan sekitar 15 hingga 16 liter nira per hari atau setara dengan sekitar dua kilogram gula aren.


“Dari populasi sekitar 1.000 batang, yang bisa dipanen biasanya sekitar 50 persen dan dilakukan secara bergantian. Kalau total produksinya sekitar 1.000 kilogram per hari dan harga gula Rp15 ribu per kilogram, maka pendapatannya bisa sekitar Rp15 juta per hari,” ungkapnya.


Dengan asumsi tersebut, pendapatan kotor dapat mencapai sekitar Rp450 juta per bulan atau sekitar Rp5,4 miliar dalam satu tahun. Nilai tersebut masih berpotensi meningkat apabila pekebun memiliki akses pasar yang lebih baik.


“Kalau akses pasarnya bagus, pendapatannya tentu bisa lebih besar. Di tingkat pembeli akhir, harga gula merah bisa mencapai Rp20 ribu sampai Rp24 ribu per kilogram. Untuk gula semut bahkan bisa mencapai sekitar Rp40 ribu per kilogram,” kata Heru.


Menurutnya, perhitungan tersebut menunjukkan bahwa aren memiliki potensi ekonomi yang cukup besar dan tidak semata-mata menjadi komoditas perkebunan yang membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan.


“Jadi, dari perhitungan ini bisa kita lihat bahwa aren sebenarnya merupakan tanaman yang bisa memberikan penghasilan cash. Tinggal bagaimana kita mengelola kebunnya dan memastikan akses pasarnya,” pungkasnya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kebun News