Harga Kakao Tembus Rp100 Ribu per Kilogram, Petani Aceh Tenggara Rasakan Dampak Positif

Bisnis 03 Sep 2026 21:51 3 min read 111 views By Zulrajab Fajar Arifin

Share berita ini

Harga Kakao Tembus Rp100 Ribu per Kilogram, Petani Aceh Tenggara Rasakan Dampak Positif
Harga kakao yang menembus Rp100 ribu per kilogram membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Aceh Tenggara. Harga komoditas kakao di tingkat petani saat ini menembus angka Rp100.000 per kilogram, sebuah lonjakan signifikan yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan para pembudidaya.

‎KebunNews.com — Harga kakao di Kabupaten Aceh Tenggara kini mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut dinilai memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani, bahkan mampu membantu memenuhi kebutuhan keluarga hingga membiayai pendidikan anak.


‎Hal itu disampaikan Hasanuddin, petani kakao sekaligus Ketua Kelompok Tani Aramiko, Desa Cinta Damai, Aceh Tenggara pada wawancara ekslusif dengan Kebunnews.com, Kamis (3/9/2016) mengenai kondisi harga kakao dan kesejahteraan petani. ‎


“Untuk harga kakao sudah bagus. Untuk bulan ini harga kakao perkilonya Rp100 ribu,” ujar Hasanuddin. ‎ ‎Menurut Hasanuddin, harga tersebut mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Ia menyebut perubahan harga kakao tidak terlepas dari berbagai faktor, baik kondisi produksi maupun perkembangan ekonomi secara umum. ‎


Untuk wilayah tertentu di Sulawesi, kata dia, fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi kakao. Sementara secara umum, pergerakan nilai dolar juga ikut memengaruhi harga komoditas tersebut. ‎ ‎Kenaikan harga kakao menjadi kabar baik bagi petani. Hasanuddin mengatakan, harga saat ini sudah memberikan keuntungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


‎“Alhamdulillah sudah sangat menguntungkan. Minimalnya sudah bisa mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari seperti makan, menyekolahkan anak dan lain-lain,” katanya.


Menurut dia, manfaat ekonomi dari kakao bahkan sudah dirasakan lebih jauh oleh sejumlah petani. Sebagian petani disebut mampu membeli kendaraan dan membangun rumah dari hasil usaha kakao. Hasanuddin sendiri mengatakan pendapatan dari kakao turut membantunya membiayai pendidikan anak hingga ke luar negeri.


“Saya sendiri bisa menyekolahkan anak kuliah di Malaysia,” ujarnya. ‎ ‎Meski harga saat ini tergolong tinggi, Hasanuddin mengingatkan petani agar tetap memperhatikan kualitas hasil panen. Menurutnya, harga kakao sangat berkaitan dengan kualitas biji yang dihasilkan.


Karena itu, perawatan kebun menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Petani perlu melakukan pengawasan secara rutin, memberikan pupuk, serta menjaga tanaman agar tetap produktif. ‎ ‎Saat ini, Hasanuddin mengaku belum menjual kakao dalam bentuk fermentasi. Hasil panen kakao yang dimilikinya biasanya dijual melalui pengepul dan koperasi. ‎


Hasanuddin juga mendorong adanya kolaborasi dan sinergi antara petani dengan berbagai pihak. Salah satu bentuknya melalui kegiatan studi banding, sehingga petani dapat saling bertukar pengalaman dan mempelajari cara meningkatkan kualitas serta produksi kakao.


Ia menilai petani perlu saling membantu, meningkatkan kualitas biji kakao, serta terus mengikuti perkembangan harga agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menjual hasil panen. ‎ ‎Ia juga mengingatkan petani untuk terus memperbarui informasi mengenai harga kakao dan berusaha meningkatkan produksi.


Bagi Hasanuddin, harga kakao yang saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram menunjukkan bahwa komoditas tersebut masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan perawatan kebun, peningkatan kualitas biji, serta kerja sama antar sesama petani.

Komentar (1)

Sudargama
Jembrana
07 Sep 2026 04:23

Mantab

Kebun News