Nira Aren Tak Hanya untuk Gula, Potensinya Jadi Bahan Bakar

inovasi 02 Sep 2026 21:47 4 min read 65 views By Syahida Rizky Fadlillah

Share berita ini

Nira Aren Tak Hanya untuk Gula, Potensinya Jadi Bahan Bakar
Pohon aren selama ini identik dengan nira dan gula aren. Namun, pemanfaatannya mulai memiliki arah baru setelah nira aren diteliti sebagai bahan baku bioetanol, membuka peluang komoditas perkebunan tersebut masuk ke rantai energi terbarukan.

KebunNews.com - Pohon aren atau seho yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk menghasilkan nira dan gula aren mulai dilirik dari sisi yang berbeda. Tanaman tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol, salah satu sumber energi terbarukan.


Perkembangan ini menjadi perhatian seiring adanya riset dan proyek percontohan pengolahan nira aren menjadi bioetanol di Indonesia. Potensi tersebut juga membuka peluang baru bagi daerah penghasil aren untuk mengembangkan komoditasnya tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai sumber bahan baku energi.


Dikutip dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kamis (3/9/26) Peneliti BRIN Saptadi Darmawan, menyebut aren memiliki potensi untuk menjadi salah satu sumber bioetanol nasional. Menurutnya, potensi tersebut didukung oleh produktivitas tanaman aren yang tinggi serta kemampuannya tumbuh pada berbagai kondisi lahan.


“Aren berpotensi menjadi sumber bioetanol nasional karena memiliki produktivitas yang tinggi dan dapat tumbuh pada berbagai kondisi lahan,” ujar Saptadi Darmawan.


Pengembangan bioetanol berbahan baku aren sebelumnya telah memasuki tahap proyek percontohan. Pada November 2025, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meresmikan pilot bioetanol aren di Kamojang, Jawa Barat. Proyek tersebut melibatkan sejumlah pihak, antara lain Kementerian Kehutanan, Pertamina, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Pertamina Geothermal Energy (PGE), BRIN, serta sejumlah pihak lainnya.


Dalam perkembangan pada Juni 2026, fasilitas percontohan bioetanol aren di Garut disebut memiliki kapasitas sekitar 300 liter bioetanol per hari. Fasilitas tersebut membutuhkan sekitar 300–500 kilogram nira aren setiap hari yang dipasok kelompok usaha perhutanan sosial setempat.


Meski masih berada dalam tahap percontohan, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa nira aren mulai diuji sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi. Bagi Sulawesi Utara, perkembangan tersebut menjadi peluang karena tanaman aren telah lama tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat di berbagai wilayah.


Aren bahkan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat melalui penyadapan nira dan pengolahan gula aren. Salah satu wilayah yang memiliki potensi tersebut adalah Minahasa. Tanaman aren atau seho dapat ditemukan di sejumlah daerah dan selama ini dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber bahan baku gula.


Pembicaraan mengenai pengembangan aren untuk energi di Sulawesi Utara sebenarnya juga bukan hal baru. Pada Desember 2024, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengunjungi Yayasan Masarang di Tomohon untuk melihat penyadapan nira aren dan pengolahan gula semut. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah melihat pengembangan aren dari sisi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus penguatan ketahanan pangan dan energi.


Pengembangan aren di tingkat masyarakat juga telah dilakukan di sejumlah daerah Sulawesi Utara. Di Bolaang Mongondow Timur, misalnya, kelompok tani Aren Lestari di Desa Bukaka pernah memperoleh bantuan 600 bibit aren dan 600 kilogram pupuk organik untuk mendukung budidaya pohon seho serta produksi gula aren.


Basis petani tersebut menjadi modal awal apabila pemanfaatan nira aren untuk bioetanol nantinya berkembang ke skala yang lebih luas. Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan kesiapan dari sisi pasokan bahan baku dan pengolahan. Ketersediaan nira, produktivitas tanaman, pola penyadapan, harga bahan baku, biaya pengumpulan, teknologi pengolahan hingga kepastian pembeli akan menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok bioetanol aren.


Artinya, pengembangan bioetanol tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya pohon aren. Petani dan pelaku usaha membutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan produksi di tingkat kebun dengan industri pengolahan. Jika teknologi bioetanol aren semakin berkembang dan kebutuhan bahan baku meningkat, kondisi tersebut berpotensi menciptakan pasar baru bagi petani.


Nira yang selama ini banyak diarahkan untuk gula dan produk turunannya dapat memiliki alternatif pemanfaatan dengan nilai tambah berbeda. Namun, peluang tersebut perlu dibangun dengan tetap memperhatikan keberlanjutan tanaman serta kepentingan masyarakat yang selama ini menggantungkan pendapatan dari aren.


Hingga kini, belum ada informasi resmi bahwa Sulawesi Utara telah ditetapkan sebagai lokasi proyek percontohan bioetanol aren. Karena itu, peluang yang ada masih berada pada tahap potensi dan belum dapat disebut sebagai proyek bioetanol yang akan segera dibangun di wilayah tersebut.


Meski demikian, keberadaan tanaman aren, pengalaman masyarakat dalam mengolah nira, serta perhatian terhadap pengembangan komoditas tersebut menjadi modal awal bagi Sulawesi Utara.


Dari pohon seho yang selama ini menghasilkan nira dan gula aren, terbuka kemungkinan lahirnya nilai tambah baru. Jika rantai pasok, teknologi dan pasar dapat dikembangkan secara berkelanjutan, aren berpeluang tidak hanya menjadi komoditas pangan, tetapi juga bagian dari pengembangan energi hijau di masa depan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kebun News