Ekspor Kakao Indonesia Tembus USD3,6 Miliar, Hilirisasi Jadi Kunci
KebunNews.com - Kakao Indonesia semakin memiliki peluang untuk memperkuat posisinya di pasar internasional. Pertumbuhan nilai ekspor dalam beberapa tahun terakhir turut didukung oleh meningkatnya permintaan serta pergeseran ekspor menuju produk kakao olahan.
Dikutip dari keterangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Sabtu (29/8/2026), Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan persaingan perdagangan global kini tidak hanya berkaitan dengan harga produk. Menurutnya, pembeli internasional semakin memperhatikan sejumlah aspek, termasuk keberlanjutan, keamanan pangan, dan kepastian rantai pasok.
“Persaingan pasar global saat ini makin kompetitif. Pembeli tidak hanya melihat harga, tetapi juga menuntut keberlanjutan, keamanan pangan, dan keandalan rantai pasok,” ujar Budi.
Kondisi tersebut membuat pengembangan ekspor kakao perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan volume perdagangan. Pemenuhan standar internasional, diversifikasi pasar, serta peningkatan nilai tambah menjadi bagian yang perlu diperkuat.
Budi menyebut kinerja ekspor kakao Indonesia sepanjang 2021 hingga 2025 menunjukkan perkembangan positif. Salah satu perubahan yang terlihat adalah semakin besarnya kontribusi produk kakao olahan dalam perdagangan internasional. Perubahan tersebut dinilai menjadi salah satu indikator bahwa proses hilirisasi mulai memberikan dampak terhadap komoditas kakao nasional.
“Kakao tidak lagi sekadar dijual sebagai komoditas mentah, tetapi diolah sehingga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar sebelum menembus pasar internasional,” terangnya.
Selain produk olahan, Indonesia juga memiliki peluang untuk memperluas pasar kakao premium. International Cocoa Organization (ICCO) telah mengakui Indonesia sebagai salah satu produsen fine flavour cocoa atau kakao dengan karakter cita rasa khas.
Menurut Budi, pengakuan tersebut dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk memperkuat posisi pada segmen kakao premium. Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui inovasi produk, perlindungan indikasi geografis, serta penerapan praktik produksi berkelanjutan.
“Ini menjadi modal penting untuk mengerek posisi kakao Indonesia di segmen premium. Peluang itu dapat diperkuat melalui inovasi produk, perlindungan indikasi geografis, serta penerapan praktik produksi yang berkelanjutan,” ungkap Budi.
Di sisi perdagangan, Kemendag juga mendorong percepatan kerja sama dengan sejumlah pasar utama, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Perluasan akses perdagangan diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi produk kakao Indonesia.
Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan jaringan 46 perwakilan perdagangan RI yang berada di 33 negara tujuan ekspor. Jaringan tersebut berperan dalam mempromosikan produk Indonesia, mengidentifikasi peluang pasar, hingga mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra melalui business matching.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Kemendag mencatat telah memfasilitasi business matching yang melibatkan 1.021 pelaku usaha. Dari kegiatan tersebut, potensi transaksi yang berhasil dihimpun mencapai USD275,61 juta. Promosi produk Indonesia juga dilakukan melalui Trade Expo Indonesia (TEI). Pada penyelenggaraan TEI 2025, total transaksi yang tercatat mencapai USD22,8 miliar.
Dari total tersebut, produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang transaksi sebesar USD474,7 juta. Capaian tersebut menunjukkan adanya peluang bagi pelaku usaha nasional untuk memperluas pasar melalui kegiatan promosi dan pertemuan bisnis internasional.
Dengan meningkatnya nilai ekspor dan semakin kuatnya kontribusi produk olahan, kakao memiliki peluang untuk memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia. Namun, peningkatan daya saing tetap membutuhkan penguatan kualitas, keberlanjutan, inovasi, serta akses pasar agar kakao nasional mampu bertahan di tengah persaingan global.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles