Harga CPO Melemah, Pasokan Sawit Indonesia Berpotensi Tertekan Akibat El Niño
KebunNews.com - Harga CPO kembali melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Kondisi tersebut terlihat dari pergerakan harga di Bursa Malaysia Derivatives serta perdagangan CPO domestik melalui tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom.
Dikutip dari Reuters, Kamis (27/8/2026), kontrak CPO untuk pengiriman November 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup turun RM93 per ton atau 1,88 persen menjadi RM4.853 per ton metrik.
Di pasar domestik, tender CPO KPBN Inacom pada Rabu (26/8/2026) kembali berakhir withdraw atau tidak terjadi transaksi. Harga penawaran tertinggi tercatat Rp15.600 per kilogram, turun Rp244 per kilogram atau sekitar 1,54 persen dibandingkan penawaran tertinggi pada Senin (24/8/2026) sebesar Rp15.844 per kilogram.
Tender CPO Franco Dumai dibuka pada harga Rp15.850 per kilogram. Namun, transaksi tidak terjadi dan tender berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp15.600 per kilogram. Sementara CPO FOB Talang Duku dibuka Rp15.600 per kg dengan penawaran tertinggi Rp15.309 per kg, sedangkan Franco Teluk Bayur dibuka Rp15.650 per kg dan mendapat penawaran tertinggi Rp15.293 per kg.
Pelemahan harga CPO tersebut terjadi setelah komoditas sawit sebelumnya mengalami penguatan dalam beberapa pekan. Pasar kini kembali mencermati kondisi ekspor, stok serta perkembangan harga minyak nabati pesaing. Selain faktor perdagangan, kondisi produksi juga menjadi perhatian pelaku industri sawit.
Ancaman El Niño diperkirakan dapat memberikan tekanan terhadap produksi sawit Indonesia dalam jangka menengah. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengatakan pada Rabu (26/8/2026) bahwa produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) Indonesia berisiko turun sekitar 4–5 juta ton pada 2027 akibat kekeringan yang dipicu El Niño.
“Produksi CPO dan PKO Indonesia berisiko turun sekitar 4–5 juta ton pada 2027 akibat kekeringan yang dipicu oleh El Niño,” kata Eddy Martono.
Penurunan tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 8–10 persen dari proyeksi produksi CPO Indonesia pada 2026 yang berada di kisaran 53 juta ton. Dampak kekeringan diperkirakan mulai terasa terhadap produksi pada tahun berikutnya.
Kondisi cuaca menjadi faktor penting dalam produksi kelapa sawit karena tanaman membutuhkan ketersediaan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan pembentukan tandan buah.
Kekeringan berkepanjangan dapat memengaruhi produktivitas tanaman dan hasil panen. Di sisi lain, pasar CPO masih mendapatkan dukungan dari meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel.
Implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia berpotensi meningkatkan penyerapan CPO di dalam negeri sehingga mengurangi ruang pasokan untuk pasar ekspor. Kondisi tersebut membuat arah harga CPO masih menghadapi dua sentimen yang berlawanan.
Dalam jangka pendek, tekanan dari stok dan ekspor dapat membatasi kenaikan harga, sementara risiko penurunan produksi akibat El Niño berpotensi menopang harga dalam jangka menengah.
Bagi industri sawit, perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga produktivitas tanaman sekaligus mengantisipasi perubahan iklim. Ketersediaan pasokan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan harga CPO ke depan.
Dengan demikian, pelemahan harga CPO pada perdagangan 26 Agustus belum serta-merta menunjukkan perubahan tren jangka panjang. Pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan produksi, ekspor, kebutuhan biodiesel serta dampak El Niño terhadap perkebunan sawit.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles