Kopi Ini Bisa Tumbuh di Lahan Gambut, Produksinya Tembus 1,98 Ton per Hektare

Budidaya 21 Aug 2026 01:24 3 min read 116 views By Nadia Riski Septiani

Share berita ini

Kopi Ini Bisa Tumbuh di Lahan Gambut, Produksinya Tembus 1,98 Ton per Hektare
Kopi Liberika menjadi salah satu komoditas yang menarik dikembangkan di luar kawasan dataran tinggi karena mampu beradaptasi di dataran rendah, suhu panas, hingga lahan gambut dengan tingkat keasaman tinggi. Selain dikenal memiliki aroma khas menyerupai buah nangka, beberapa varietas seperti Libtukom, Liberoid Meranti 1, dan Liberoid Meranti 2 juga memiliki potensi produksi hingga hampir 2 ton biji kopi per hektare.

KebunNews.com — Kopi selama ini lebih banyak dikenal sebagai komoditas yang dibudidayakan di kawasan dataran tinggi. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku untuk kopi Liberika.


Jenis kopi ini memiliki kemampuan adaptasi yang cukup luas sehingga dapat dikembangkan di dataran rendah hingga sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), termasuk pada kawasan lahan gambut.


Kemampuan adaptasi tersebut menjadi salah satu keunggulan Liberika dibandingkan sejumlah jenis kopi lainnya. Tanaman ini dapat tumbuh pada kondisi lingkungan dengan suhu relatif tinggi, bahkan mampu beradaptasi pada suhu yang berada di kisaran 40 derajat Celsius.


Tidak hanya tahan terhadap suhu tinggi, Liberika juga memiliki kemampuan tumbuh pada lahan dengan tingkat keasaman tinggi. Karakter ini membuatnya berpotensi dikembangkan di kawasan gambut yang selama ini memiliki tantangan tersendiri untuk budidaya tanaman perkebunan.


Dokumen resmi Kementerian Pertanian menyebut kopi Liberika dapat dibudidayakan pada tanah gambut maupun tanah mineral dengan tingkat pH antara 2 hingga 6,5. Dari sisi iklim, tanaman ini dapat tumbuh pada kisaran suhu sekitar 22 hingga 42 derajat Celsius.


Selain keunggulan dalam hal adaptasi, Liberika memiliki karakter cita rasa yang membedakannya dari kopi yang lebih umum dikenal masyarakat. Kopi ini memiliki aroma dan sensasi rasa yang menyerupai buah-buahan, khususnya nangka, dengan sentuhan rasa asam yang menjadi ciri khasnya.


"Karena memiliki aroma khas yang menyerupai buah nangka, kopi Liberika juga dikenal dengan sebutan kopi nangka atau kopi nongko," demikian karakter yang melekat pada kopi Liberika, dikutip Jumat (21/8/26).


Keunikan rasa dan aromanya turut membuat Liberika memiliki peluang di pasar, termasuk pasar luar negeri. Salah satu negara yang disebut memiliki ketertarikan terhadap kopi Liberika adalah Malaysia.


Di Indonesia, tanaman Liberika banyak ditemukan dan dikembangkan di kawasan yang memiliki karakter lahan gambut dengan tingkat keasaman rendah. Beberapa wilayah yang dikenal sebagai sentra pengembangan Liberika antara lain Jambi, Bengkulu, serta Kepulauan Meranti di Riau.


Sejumlah varietas Liberika juga telah dikembangkan untuk mendukung budidayanya. Di antaranya adalah Liberika Tungkal Komposit atau Libtukom, Liberoid Meranti 1 (Lim 1), dan Liberoid Meranti 2 (Lim 2). Ketiga varietas tersebut telah tercantum dalam dokumen Kementerian Pertanian sebagai varietas kopi Liberika yang telah dilepas.


Khusus untuk Liberoid Meranti, pengembangannya memiliki kaitan erat dengan kawasan Kepulauan Meranti, Riau. Varietas tersebut diketahui mampu beradaptasi pada kondisi lahan gambut dan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.


Liberoid Meranti 1, misalnya, memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada lahan gambut. Tanaman tersebut juga dapat ditanam dengan sistem tumpangsari bersama tanaman kelapa atau pinang yang berfungsi sebagai penaung. Potensi produksinya tercatat sekitar 1,69 ton biji kopi per hektare.


Sementara Liberoid Meranti 2 dikembangkan secara khusus untuk kondisi lahan gambut. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, varietas tersebut memiliki potensi produksi sekitar 1,98 ton biji kopi per hektare.


Kemampuan Liberika beradaptasi di lahan gambut menjadi salah satu alasan komoditas ini dinilai menarik untuk terus dikembangkan. Sejumlah penelitian mengenai kopi Liberoid di Kepulauan Meranti menunjukkan bahwa tanaman tersebut mampu tumbuh pada ekosistem gambut sekaligus memiliki potensi ekonomi.


Karakter tersebut membuat Liberika dapat menjadi salah satu pilihan dalam pemanfaatan lahan gambut secara produktif. Bahkan, kopi ini disebut berpotensi menjadi alternatif komoditas di kawasan yang selama ini banyak dimanfaatkan untuk tanaman perkebunan lainnya, sekaligus dapat mendukung upaya konservasi apabila dikembangkan dengan memperhatikan kondisi dan fungsi ekosistem gambut.


Dengan kemampuan tumbuh di dataran rendah, toleransi terhadap kondisi lahan gambut dan tanah masam, cita rasa khas menyerupai nangka, serta tersedianya varietas yang telah dikembangkan sesuai karakter wilayah, kopi Liberika memiliki peluang untuk semakin dikembangkan sebagai komoditas perkebunan alternatif di Indonesia.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kebun News