Kakao Bisa Jadi Agrowisata, dari Kebun hingga “Tree to Bar to Memory”
KebunNews.com - Melalui pengembangan agrowisata, kebun kakao dapat diubah menjadi ruang edukasi sekaligus tempat bagi pengunjung untuk mengenal perjalanan kakao hingga menjadi produk cokelat. Hal tersebut disampaikan Akhsin Al Fata, Owner Makosida Commodity Warehouse dan Co-Founder Kampung Coklat, dalam Webinar Nasional “Spesial Hari Kakao 2026”.
Dalam pemaparannya, Akhsin menjelaskan bahwa nilai kakao tidak berhenti pada biji sebagai komoditas, tetapi dapat dikembangkan hingga menjadi berbagai produk dan pengalaman bagi pengunjung.
Menurut Akhsin, “nilai kakao tidak berhenti pada biji sebagai komoditas.” Nilai tersebut dapat dikembangkan mulai dari bahan baku dan produk turunannya hingga produk akhir seperti cokelat, minuman, es krim, serta berbagai bentuk pengalaman yang dapat ditawarkan kepada pengunjung.
Kebun Kakao Jadi Ruang Edukasi
Konsep agrowisata berbasis kakao dapat membuat kebun tidak sekadar menjadi tempat untuk melihat tanaman. Pengunjung dapat diajak mengikuti perjalanan kakao sejak dari kebun hingga menjadi produk cokelat. Aktivitas tersebut dapat berupa memetik dan mencicipi buah kakao, mengenal proses pengolahan, mengikuti workshop atau cooking class, hingga menikmati produk cokelat yang dihasilkan.
Akhsin menilai pengalaman menjadi bagian penting dalam menciptakan nilai. Aktivitas pertanian yang selama ini dianggap biasa oleh petani justru dapat menjadi sesuatu yang menarik bagi masyarakat yang belum mengenal proses kakao secara dekat.
Konsep tersebut kemudian dikenal sebagai “tree to bar to memory”, yaitu perjalanan dari pohon kakao hingga menjadi produk cokelat yang kemudian meninggalkan pengalaman dan kenangan bagi pengunjung. “Tree to bar to memory,” menjadi gambaran bagaimana perjalanan kakao dari pohon hingga menjadi cokelat dapat memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung.
Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Kebun
Pengembangan agrowisata berbasis kakao membutuhkan lebih dari sekadar kebun, gazebo, tempat berfoto, maupun tiket masuk. Diperlukan cerita yang kuat, aktivitas menarik, fasilitas memadai, akses yang baik, serta produk dan layanan yang membuat pengunjung ingin tinggal lebih lama.
Semakin lama pengunjung menikmati pengalaman yang ditawarkan, semakin besar pula peluang terciptanya nilai ekonomi bagi pelaku usaha dan masyarakat sekitar.
Pengalaman pengembangan Kampung Coklat di Kabupaten Blitar menjadi salah satu contoh yang disampaikan dalam pemaparan tersebut. Kehadiran agrowisata dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang melibatkan berbagai pihak.
Petani, UMKM, pelaku kuliner, pemandu wisata, penyedia transportasi, pengelola penginapan, hingga masyarakat sekitar dapat memperoleh peluang dari berkembangnya aktivitas wisata. Setiap Daerah Bisa Punya Konsep Berbeda Pengembangan agrowisata kakao tidak harus menggunakan konsep yang sama di setiap daerah.
Wilayah yang memiliki potensi kakao dapat membangun identitas wisatanya berdasarkan karakter lokal masing-masing. Budaya, sejarah, potensi kebun, serta kreativitas masyarakat dapat menjadi bagian dari cerita yang ditawarkan kepada pengunjung.
Dengan demikian, kakao dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru. Melalui pengembangan produk bernilai tambah dan agrowisata, kakao memiliki ruang untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Komoditas tersebut tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga dapat menciptakan pengalaman, membuka peluang usaha, dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat. Pengembangan kakao tidak hanya berbicara mengenai jumlah produksi, tetapi juga bagaimana setiap bagian dari komoditas tersebut dapat menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles