Jangan Jual Mentah: Potensi Nilai Tambah Jambu Mete bagi Petani
KebunNews.com – Petani jambu mete di Indonesia dinilai punya peluang besar menambah pendapatan jika tak lagi menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Lewat hilirisasi, mete bisa diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi, mulai dari kacang olahan dan camilan hingga minyak industri dan bahan baku otomotif.
Persoalannya, pola lama masih bertahan. Ekspor mete Indonesia sampai kini kebanyakan masih berupa gelondong, terutama ke India dan Vietnam. Artinya, nilai tambah dari proses pengolahan banyak dinikmati negara tujuan, bukan petani di dalam negeri.
Ketergantungan pada Pasar Ekspor Gelondong
Sebuah kajian yang merujuk data 2017–2021 mencatat Vietnam menyerap sekitar 49 persen ekspor mete Indonesia, disusul India sekitar 14,72 persen dan Amerika Serikat 14,04 persen. Pada 2012–2021, nilai ekspor mete tumbuh rata-rata 18,59 persen per tahun, dengan kisaran sekitar US$120 juta.
Dari sisi produksi, data BPS mencatat produksi jambu mete nasional berkisar 146 ribu hingga 170 ribu ton per tahun pada 2019–2023, dengan 164,1 ribu ton pada 2023. Volume sebesar itu menunjukkan potensi bahan baku yang besar jika dapat diolah di dalam negeri.
Mete Bisa Masuk ke Banyak Industri
Selama ini petani umumnya hanya menjual gelondong dan biji mete. Padahal, lewat hilirisasi, mete berpeluang masuk ke sejumlah industri:
• Otomotif: kanvas rem, serbuk friksi, dan campuran ban
• Konstruksi: bahan anti karat untuk peralatan darat dan laut
• Pangan olahan: kacang olahan, camilan, dan sirup
• Pakan ternak
Di industri makanan, mete banyak dipakai sebagai bahan baku makanan manis (confectionery) dan camilan. Cita rasanya yang khas menempatkan mete sejajar dengan almond, hazelnut, walnut, dan kacang tanah.
Dari Limbah Kulit Jadi Minyak Industri
Salah satu produk turunan yang menonjol adalah minyak CNSL (cashew nut shell liquid) yang diolah dari limbah kulit dan daging mete. CNSL tersusun atas empat senyawa fenolik, yaitu asam anarkadat, kardol, kardanol, dan metil kardol, yang masing-masing memiliki manfaat berbeda.
• Asam anarkadat: berpotensi sebagai anti tumor, antimikroba, dan anti jerawat
• Kardanol: bahan baku produk pelapis permukaan
• Kardol: bersifat toksik pada kulit
Hasil ekstraksi ini dapat dijual dengan harga lebih tinggi dan dikembangkan menjadi banyak produk turunan. Artinya, limbah yang tadinya terbuang bisa menjadi sumber pendapatan tambahan.
Ekstraksi CNSL dapat dilakukan dengan tiga metode. Pemanggangan menggunakan suhu tinggi dan cenderung menghasilkan CNSL berkualitas rendah. Penekanan butuh persiapan lebih rumit dan masih menyisakan minyak pada ampas. Pelarut kimia menghasilkan kualitas lebih baik, tetapi biayanya lebih mahal.
Contoh Kolaborasi di Daerah
Pengolahan mete bisa dilakukan pada skala rumah tangga maupun pabrik. Pada skala rumah tangga, proses umumnya berupa pengacipan, yaitu memecah gelondong untuk mengambil kacangnya satu per satu. Pada skala pabrik, limbah diolah menjadi CNSL.
Kolaborasi dua skala ini sudah terlihat di beberapa daerah. Di Kabupaten Wonogiri, pengolahan kacang mete bermitra dengan pengolah limbah CNSL di Semarang. Di Kabupaten Bima, Kelompok Tani Mekar mengolah kacang mete menjadi keripik dan kue kering.
Pemerintah Siapkan Dukungan
Pemerintah menempatkan jambu mete dalam program hilirisasi perkebunan. Kementerian Pertanian menjalankan program ini dengan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk tujuh komoditas strategis, dengan target 870 ribu hektare kebun rakyat pada 2025–2027. Ketujuhnya adalah tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan hilirisasi didorong agar hasil perkebunan diolah menjadi produk bernilai tinggi yang menguntungkan pekebun dan perekonomian nasional (18/3/2026). Pada akhir September 2026, dalam rapat koordinasi dengan Pemprov Sulawesi Tenggara, Mentan menyebut percepatan penetapan calon petani dan calon lokasi program hilirisasi sebagai salah satu fokus, termasuk untuk jambu mete.
Kementerian Kehutanan juga menyiapkan lahan 390 ribu hektare untuk tahap awal hilirisasi perkebunan, dengan jambu mete termasuk enam komoditas fokus.
Manfaat bagi Petani dan Ekonomi.
Selain menaikkan harga jual, pengembangan industri turunan mete dinilai membawa manfaat lebih luas:
• Menghemat devisa, karena mengurangi kebutuhan impor senyawa fenol
• Membuka lapangan kerja di sektor agribisnis dan pengolahan
• Menyediakan sumber daya terbarukan, dengan bahan baku lebih terjamin dibanding minyak bumi
• Lebih ramah lingkungan, karena produk turunan CNSL mudah terurai secara alami
Mete juga tumbuh di lahan tandus, kritis, dan marginal sehingga tidak banyak bersaing dengan komoditas lain. Dengan hilirisasi, lahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan bisa memberi hasil lebih optimal bagi petani.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles