Hilirisasi Jambu Mete: Dari Kacang hingga Kanvas Rem, Pemerintah Siapkan Rp9,5 Triliun

Berita 28 Oct 2026 09:00 • 3 min read • 22 views • By Gani Islahudin

Share berita ini

Hilirisasi Jambu Mete: Dari Kacang hingga Kanvas Rem, Pemerintah Siapkan Rp9,5 Triliun
Main Idea: Pemerintah mendorong hilirisasi jambu mete melalui program pengembangan perkebunan dan pengolahan produk bernilai tambah, mulai dari pangan olahan hingga bahan baku industri, untuk meningkatkan pendapatan petani, memperluas peluang usaha, mengurangi ketergantungan impor, dan memperkuat perekonomian nasional.

KebunNews.com – Jambu mete (Anacardium occidentale L.) tak lagi sekadar dikenal sebagai penghasil kacang. Komoditas yang juga disebut jambu monyet ini kini masuk daftar prioritas hilirisasi perkebunan pemerintah, dengan peluang diolah menjadi aneka produk bernilai tinggi, mulai dari camilan hingga bahan industri otomotif dan konstruksi.


Kementerian Pertanian (Kementan) menjalankan program hilirisasi perkebunan dengan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk tujuh komoditas strategis, dengan target 870 ribu hektare kebun rakyat pada 2025–2027. Ketujuh komoditas tersebut adalah tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete.


Dukungan Pemerintah Menguat


Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah mendorong hilirisasi agar hasil perkebunan tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi yang menguntungkan pekebun dan perekonomian nasional (Rabu, 18/3/2026).


Pada akhir September 2026, program ini bergerak ke daerah. Dalam rapat koordinasi dengan Pemprov Sulawesi Tenggara, Mentan menyebut percepatan penetapan calon petani dan calon lokasi (CPCL) hilirisasi menjadi salah satu fokus, termasuk untuk jambu mete.


Dukungan lintas kementerian juga muncul. Kementerian Kehutanan menyatakan telah menyandingkan data lahan seluas 390 ribu hektare untuk tahap pertama hilirisasi perkebunan, dengan enam komoditas fokus, yakni kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete.
Sebelumnya, Kementan menegaskan bahwa hilirisasi bertujuan agar produk perkebunan tidak lagi dijual mentah, melainkan diproses menjadi produk bernilai tambah yang memberi dampak ekonomi lebih besar bagi petani.

Produksi Nasional Fluktuatif
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jambu mete Indonesia pada 2019–2023 berkisar 146 ribu hingga 170 ribu ton per tahun, dengan angka 164,1 ribu ton pada 2023.


Tanaman ini mampu tumbuh di lahan tandus, kritis, dan marginal, sehingga persaingan lahan dengan komoditas lain relatif kecil. Di industri, mete banyak dipakai sebagai bahan baku makanan manis (confectionery) dan camilan, sejajar dengan almond, hazelnut, walnut, dan kacang tanah.


Masih Diekspor Gelondongan
Tantangan terbesar adalah nilai tambah yang masih rendah. Ekspor mete Indonesia sampai kini kebanyakan masih berupa gelondong, terutama ke India dan Vietnam. Sebuah kajian yang merujuk data 2017–2021 mencatat Vietnam menyerap sekitar 49 persen ekspor mete Indonesia, disusul India (14,72 persen) dan Amerika Serikat (14,04 persen). Nilai ekspor mete pada 2012–2021 tumbuh rata-rata 18,59 persen per tahun, dengan kisaran sekitar US$120 juta.


Padahal, lewat hilirisasi mete dapat masuk ke sejumlah industri:
• Otomotif: kanvas rem, serbuk friksi, dan campuran ban
• Konstruksi: bahan anti karat untuk peralatan darat dan laut
• Pangan olahan
• Pakan ternak
Produk olahan yang sudah berkembang meliputi kacang olahan, sirup, dan minyak CNSL (cashew nut shell liquid).


Dua Skala Pengolahan, Bisa Saling Berkolaborasi


Pada skala rumah tangga, pengolahan umumnya berupa pengacipan, yakni memecah gelondong untuk mengambil kacangnya satu per satu. Pada skala pabrik, limbah kulit dan daging mete diolah menjadi minyak CNSL. Kolaborasi keduanya dapat memperbanyak ragam produk.


Pola ini sudah berjalan di Kabupaten Wonogiri, meski mitra pengolah CNSL berada di Semarang. Di Kabupaten Bima, Kelompok Tani Mekar mengolah kacang mete menjadi keripik dan kue kering.


CNSL, Minyak Industri Serbaguna


CNSL tersusun atas empat senyawa fenolik, yaitu asam anarkadat, kardol, kardanol, dan metil kardol, yang masing-masing punya manfaat berbeda:
• Asam anarkadat: berpotensi sebagai anti tumor, antimikroba, dan anti jerawat
• Kardanol: bahan baku produk pelapis permukaan
• Kardol: bersifat toksik pada kulit

Ada tiga metode ekstraksi CNSL:


1. Pemanggangan: suhu tinggi, cenderung menghasilkan CNSL berkualitas rendah.
2. Penekanan: persiapan awal lebih rumit dan masih menyisakan minyak pada ampas.
3. Pelarut kimia: kualitas lebih baik, tetapi biaya lebih mahal.
Pengembangan CNSL dalam negeri juga dinilai menghemat devisa karena mengurangi impor senyawa fenol, membuka lapangan kerja, menjadi alternatif sumber daya terbarukan, dan mudah terurai secara alami dibanding produk berbasis minyak bumi.


Peluang ke Depan


Dengan dukungan anggaran, lahan, dan koordinasi pusat-daerah, hilirisasi diharapkan mengubah mete dari komoditas mentah menjadi bahan industri bernilai tinggi. Jika berjalan, manfaatnya mengalir ke petani dan masyarakat, sekaligus mengoptimalkan lahan tandus, kering, dan marginal.



Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kebun News