Ekspor Sawit Melonjak, Harga Malah Turun
KebunNews.com - Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada Juni 2026 mencatat lonjakan signifikan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan total ekspor produk sawit mencapai 3,275 juta ton atau melonjak 64,08% dibandingkan realisasi Mei 2026 yang sebesar 1,996 juta ton.
Lonjakan ini terutama ditopang oleh peningkatan pengiriman produk olahan minyak sawit yang mencapai 2,357 juta ton, serta ekspor CPO yang melonjak hampir sepuluh kali lipat dari 31 ribu ton pada Mei menjadi 335 ribu ton pada Juni 2026.
Nilai ekspor pun ikut terdongkrak, mencapai US$3,92 miliar atau naik 57,45% dibandingkan bulan sebelumnya. Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menjelaskan bahwa kenaikan ekspor terjadi hampir di semua lini.
"Kenaikan juga terjadi pada ekspor produk olahan minyak inti sawit yang meningkat dari 55 ribu ton menjadi 116 ribu ton, atau tumbuh sekitar 110%," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (26/8/2026).
Secara kumulatif, total ekspor produk sawit Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 16,595 juta ton, lebih tinggi 5,79% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendorong utama kenaikan pada Juni adalah India yang meningkat 328 ribu ton atau sekitar 396%, dan China yang bertambah 256 ribu ton atau naik 67%.
Namun, di balik lonjakan volume tersebut, harga justru menunjukkan tren yang berbeda. Meski volume ekspor meningkat, harga acuan CPO justru mengalami koreksi. Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi CPO untuk periode 1-31 Agustus 2026 sebesar US$996,52 per metrik ton, turun 0,44% dari periode sebelumnya.
Penurunan harga acuan ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan global. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan bahwa faktor utama adalah menurunnya permintaan dari India sebagai negara importir utama CPO, serta penurunan harga minyak mentah dunia.
"Harga Referensi CPO pada Agustus 2026 turun dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sesuai ketentuan yang berlaku, penurunan tersebut diikuti dengan penetapan bea keluar sebesar USD148 per MT," ujar Tommy dalam keterangan resmi, Senin (3/8/2026).
Pungutan Ekspor (Export Levy) untuk periode yang sama ditetapkan sebesar 12,5% dari harga referensi, atau sekitar US$124,56 per ton. Lonjakan ekspor sawit Indonesia di tengah tekanan harga global menunjukkan bahwa komoditas ini tetap menjadi andalan perdagangan luar negeri.
Namun, koreksi harga acuan menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada pasar tertentu, seperti India dan China, menyimpan risiko tersendiri. Ke depan, stabilitas harga di tingkat petani dan keberlanjutan kebijakan ekspor akan menjadi ujian nyata bagi pemerintah dan pelaku industri, agar euforia volume tak berakhir pada tekanan harga di pasar domestik.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles