Biotron, Habitat Mikroba untuk Mendukung Pertanian Rendah Karbon

inovasi 05 Oct 2026 18:20 • 2 min read • 14 views • By Nadia Riski Septiani

Share berita ini

Biotron, Habitat Mikroba untuk Mendukung Pertanian Rendah Karbon
Biochar tongkol jagung dalam inovasi Biotron tidak hanya berfungsi sebagai pembenah tanah, tetapi juga menjadi habitat mikroba dan biofilm yang mendukung ketersediaan nutrisi serta kesehatan perakaran. Agar efektif, Biotron perlu diaplikasikan secara tepat di zona akar dengan dosis, kedalaman, dan waktu yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman untuk mendukung pertanian rendah karbon.

KebunNews.com - Pemanfaatan biochar tongkol jagung dapat dikembangkan bukan hanya sebagai pembenah tanah, tetapi juga sebagai habitat bagi mikroba yang mendukung proses biologis di dalam tanah. Konsep tersebut menjadi bagian dari inovasi Biotron untuk mendukung penerapan pertanian rendah karbon.


Hal tersebut disampaikan Budiono, S.P., MM dari Kementerian Pertanian/BBPP Binuang dalam Webinar “Pertanian Rendah Karbon Berbasis Inovasi Biotron” yang digelar pada Senin, 5 Oktober 2026. Menurut Budiono, biochar tongkol jagung (BTJT) bukan sekadar material pembenah tanah, tetapi dapat menjadi habitat aktif bagi mikroba dan biofilm.


Melalui proses bioclogging, pori-pori pada biochar mengalami transformasi dinamis sehingga dapat menjadi ruang hidup bagi konsorsium mikroba. Aktivitas mikroba tersebut membantu menyediakan nutrisi secara lebih stabil sekaligus mendukung distribusi bakteri yang menguntungkan bagi lingkungan perakaran tanaman. “Biochar tongkol jagung bukan sekadar material pembenah tanah, tetapi dapat menjadi habitat aktif bagi mikroba dan biofilm,” jelas Budiono.


Biotron Perlu Ditempatkan di Zona Akar Dalam penerapannya, Biotron tidak cukup hanya ditaburkan di permukaan tanah. Aplikasi perlu dilakukan secara presisi pada area piringan tanaman agar material berada lebih dekat dengan zona perakaran. Biotron ditempatkan dalam parit melingkar dengan kedalaman sekitar 5–7 sentimeter.


Penempatan tersebut ditujukan agar Biotron berada di zona aktif akar muda, membantu mempertahankan kelembapan, sekaligus mendekatkan material dengan sistem perakaran. Hara yang dilepaskan dari material tersebut selanjutnya perlu bergerak melalui matriks tanah hingga mencapai zona penyerapan akar. Karena itu, penempatan Biotron menjadi bagian penting dalam penerapannya di lapangan.


Dosis Disesuaikan dengan Fase Pertumbuhan Operasional Biotron dibedakan berdasarkan fase pertumbuhan tanaman. Pada saat tanam, digunakan 5 kilogram Biotron bersama 50 kilogram kompos sebanyak satu kali pada dasar lubang tanam. Sementara itu, untuk perawatan rutin, aplikasi dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada awal dan akhir musim hujan.


Dosis yang digunakan disesuaikan dengan umur dan tajuk tanaman. Untuk pupuk susulan, digunakan rasio 1:1 antara pupuk dan Biotron. Aplikasi dilakukan pada area piringan tanaman dengan kedalaman sekitar 5–7 sentimeter. Penerapan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan Biotron tidak hanya berkaitan dengan jenis material yang digunakan, tetapi juga ketepatan lokasi, kedalaman, dosis, dan waktu aplikasinya.


Melalui pemanfaatan biochar sebagai habitat mikroba dan penerapan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, inovasi Biotron diarahkan untuk mendukung pengelolaan tanah dan sistem pertanian yang lebih rendah karbon.



Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kebun News