13 Hari Penyaluran Benih Tebu Asal KBD, Rp561 Juta Mengalir ke Masyarakat
KebunNews.com - Benih tebu asal Kebun Benih Dasar (KBD) berjenjang mulai disalurkan kepada masyarakat di Kabupaten Cirebon. Dari 100 hektare kebun yang telah terbangun, sebanyak 43 hektare memiliki taksasi setara untuk pengembangan seluas 260 hektare.
Hingga saat ini, benih telah tersalurkan untuk pengembangan sekitar 210 hektare. Salah satu penerima bantuan, David, 39 tahun, dari Kelompok Tani Rancamaya Jaya, Desa Lemahabang Kulon, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, mengatakan kelompoknya menerima bantuan untuk pengembangan seluas 10 hektare.
Sementara dirinya mendapatkan alokasi untuk lahan seluas 5 hektare. Menurut David, kondisi benih yang diterima cukup baik dan layak untuk ditanam. Mata tunas pada benih terlihat segar dengan varietas Panjalu 1. “Benih yang disalurkan layak untuk ditanam, mata tunasnya segar.
Varietas yang diterima jenis Panjalu 1,” jelas David. Hal senada disampaikan Sukendi, anggota Kelompok Tani Sari Tebu, Desa Halimpu, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon. Ia mendapatkan benih KBD untuk pengembangan lahan seluas 5 hektare.
Sukendi menilai kualitas benih yang diterimanya cukup baik. Mata tunas pada batang tebu dinilai banyak dan masih layak digunakan. Dari sisi volume, benih yang diberikan juga dinilai mencukupi dengan alokasi sekitar satu rit untuk setiap satu hektare lahan pengembangan. “Benihnya bagus, matanya banyak dan bisa terpakai. Volumenya juga cukup, satu hektare pengembangan mendapatkan satu rit. Tebangannya cukup baik, daun hijau tidak ikut terbawa,” ungkap Sukendi.
Penyaluran benih KBD tidak hanya memberikan manfaat bagi petani penerima bantuan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ketua KUD Semar, Rahmat, selaku pelaksana kegiatan pembangunan KBD berjenjang, mengatakan proses pengiriman benih melibatkan masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Selama 13 hari proses pengiriman, sebanyak 210 armada dilibatkan untuk mendistribusikan benih. Dengan biaya pengiriman sebesar Rp1,5 juta per rit, kegiatan tersebut menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp315 juta bagi usaha pengiriman. Selain itu, kegiatan penebangan juga melibatkan 36 tenaga kerja dengan nilai biaya sekitar Rp70 juta.
Sementara proses penanaman melibatkan sekitar 1.500 tenaga kerja dengan nilai upah HOK mencapai Rp176 juta. “Dalam waktu 13 hari saja sudah memperkerjakan banyak masyarakat lokal untuk panen dan penanaman benih asal KBD,” jelas Rahmat. Menurut Rahmat, para petani penerima bantuan juga optimistis terhadap hasil pengembangan benih tersebut.
Sejumlah petani bahkan mulai membandingkan pertumbuhan dan potensi hasil varietas Panjalu dengan varietas yang selama ini banyak ditanam, seperti PSJT 941 dan BL. Jika performanya dinilai lebih baik, bukan tidak mungkin petani akan semakin banyak menggunakan varietas yang diperkenalkan melalui program pemerintah tersebut.
Adapun varietas Panjalu diproyeksikan mampu menghasilkan produksi hingga sekitar 1.500 kuintal per hektare dengan rendemen mencapai 11 persen. Pembangunan KBD berjenjang merupakan bagian dari program penyediaan benih oleh Kementerian Pertanian melalui pembiayaan APBN Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mendukung pengembangan perkebunan sekaligus kebijakan hilirisasi komoditas perkebunan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles