Potensi Kakao Indonesia Besar, Dewan Kakao Dorong Produktivitas Petani Lebih Optimal
KebunNews.com - Produktivitas kakao Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar. Sejumlah klon dan varietas kakao yang dikembangkan di Tanah Air secara genetik mampu menghasilkan 1,5 hingga 3 ton biji kering per hektare setiap tahun. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tercapai di tingkat petani.
Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah, mengatakan produktivitas kakao di lapangan rata-rata masih berada di kisaran 600–700 kilogram biji kering per hektare per tahun.
“Di lapangan kita masih menemui produktivitas rata-rata itu sekitar 600 sampai 700 kg biji kering per hektare per tahun,” ujar Soetanto dalam wawancara bersama KebunNews.
Menurutnya, angka tersebut bahkan dapat lebih rendah pada kebun dengan perawatan yang kurang baik maupun tanaman yang sudah berusia tua. Kondisi tanaman menjadi salah satu persoalan utama karena sebagian areal kakao Indonesia sudah tidak mampu menghasilkan secara optimal.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian yang disampaikan Soetanto, luas areal kakao Indonesia mencapai sekitar 1,3 juta hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ribu hektare merupakan tanaman muda yang belum menghasilkan, sedangkan sekitar 800 ribu hektare merupakan tanaman menghasilkan.
Sementara itu, kurang lebih 300 ribu hektare lainnya merupakan tanaman tua dan rusak. Kondisi tersebut membuat sebagian areal kakao tidak dapat memberikan produktivitas maksimal. Selain faktor usia tanaman, petani juga menghadapi persoalan tenaga kerja.
Soetanto menyebut rata-rata petani kakao saat ini sudah berusia lanjut. Di sisi lain, ketertarikan generasi muda untuk meneruskan usaha perkebunan kakao masih terbatas. Persoalan lain datang dari serangan hama dan penyakit, seperti penggerek buah kakao, Helopeltis, penyakit busuk buah, serta VSD.
Kesuburan tanah yang mulai menurun juga turut memengaruhi produktivitas tanaman. Belum lagi perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. Kemarau panjang di sejumlah daerah, misalnya, dapat menyebabkan tanaman mengalami kekeringan hingga mati sehingga produksi kakao ikut menurun.
Tanaman Kakao Perlu Diremajakan Untuk mengembalikan produktivitas, peremajaan tanaman atau replanting menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan ketika tanaman sudah melewati masa produktifnya. Soetanto menjelaskan, tanaman kakao yang baru ditanam mulai berbunga dan berbuah sekitar dua tahun kemudian.
Namun, produktivitasnya masih rendah pada tahap awal. Produksi kemudian meningkat secara bertahap hingga mencapai puncaknya sekitar usia 8–10 tahun, bergantung pada potensi genetik serta perawatan tanaman. Kondisi produktif tersebut dapat bertahan hingga sekitar usia 20 tahun. Setelah melewati usia tersebut, produktivitas tanaman mulai menurun sehingga perlu dilakukan penanaman kembali.
“Setelah 20 tahun itu sebaiknya direplanting. Jadi tanaman yang lama dicabut, kemudian tanahnya diperbaiki, dipupukan, kemudian kalau ada naung-naungan yang kurang baik juga diperbaiki, kemudian ditanam tanaman yang baru,” jelasnya.
Pemilihan Klon Kakao Tak Bisa Sembarangan Dari sisi bahan tanam, Indonesia memiliki banyak pilihan klon kakao. Soetanto menjelaskan secara prinsip terdapat kakao mulia atau edel serta kakao linda atau bulk. Kakao yang banyak dikembangkan di Indonesia merupakan jenis bulk. Kakao bulk sendiri dapat berupa tanaman hibrida maupun klonal.
Beberapa klon yang disebut antara lain Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 01, ICCRI 02, ICCRI 03, ICCRI 04, ICCRI 08, ICCRI 09, MCC 01, MCC 02, hingga Mulika 1 dan Mulika 2. Meski memiliki banyak pilihan, Soetanto mengingatkan agar petani tidak menanam hanya satu klon dalam satu hamparan.
Menurutnya, keberagaman klon diperlukan untuk membantu penyerbukan sekaligus mengurangi risiko apabila terjadi serangan penyakit atau kondisi iklim ekstrem. Salah satu klon yang banyak diminati petani adalah MCC 02 karena memiliki buah yang besar dan produktivitas tinggi.
Namun, setiap klon tetap memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pascapanen Menentukan Kualitas dan Harga Kakao Selain budidaya, penanganan setelah panen juga menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas biji kakao.
Soetanto mengatakan harga biji kakao dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tingkat kekeringan, kualitas biji hingga kondisi harga di pasar internasional. Kadar air ideal biji kakao berada di sekitar 7 persen dengan batas maksimal 7,5 persen.
Biji yang masih memiliki kadar air tinggi, misalnya 10–15 persen, dapat dihargai lebih rendah. Begitu pula dengan biji yang gepeng, pecah, atau tercampur bahan lain. Untuk menjaga kualitas, biji kakao yang akan difermentasi sebaiknya ditempatkan di dalam kotak dan dibalik selama proses fermentasi.
Setelah sekitar 4–5 hari, biji kemudian dikeringkan. Proses pengeringan dianjurkan dilakukan di atas para-para dan tidak langsung di atas tanah atau lantai. Sebelum fermentasi maupun pengeringan, biji yang terkena hama dan penyakit juga perlu dipisahkan dari biji yang sehat.
Dengan perbaikan mulai dari kondisi tanaman, pemilihan klon, perawatan kebun hingga penanganan pascapanen, potensi produksi kakao di tingkat petani diharapkan dapat lebih mendekati kemampuan genetik tanaman yang telah dikembangkan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles