Pucuk Teh Bisa Diolah Tanpa Mesin, Begini Cara Tradisionalnya

Budidaya 17 Sep 2026 19:34 2 min read 39 views By Zulrajab Fajar Arifin

Share berita ini

Pucuk Teh Bisa Diolah Tanpa Mesin, Begini Cara Tradisionalnya
Pengolahan pucuk teh tidak selalu membutuhkan mesin atau peralatan industri. Dengan peralatan sederhana seperti tampir, kipas angin, wajan dan kompor, pucuk teh dapat diolah menjadi produk teh hijau secara tradisional.

‎KebunNews.com –  Cara tersebut diperkenalkan Ferri Kurnia melalui buku Mengolah Pucuk Teh Tradisional. Buku ini dibuat untuk mengenalkan teknik pengolahan teh kepada petani maupun masyarakat umum yang ingin mencoba mengolah pucuk teh secara mandiri dalam skala kecil.


Menurut materi dalam buku tersebut, salah satu tahapan penting dimulai dari pemilihan bahan baku. Pucuk yang digunakan adalah petikan P+3, yakni kuncup peko bersama tiga pucuk daun di bawahnya. ‎Setelah dipetik, pucuk teh dihamparkan atau diwiwir di atas tampir atau nyiru.


Pucuk kemudian dikipas selama sekitar 1–4 jam sebagai bagian dari proses awal pelayuan. ‎ ‎Tahap berikutnya adalah pelayuan panas. Pengolahan dapat dilakukan dengan dua pilihan, yakni disangrai menggunakan wajan atau dikukus menggunakan dandang.


‎Pada metode sangray, pucuk dipanaskan menggunakan api sedang hingga layu. Indikatornya, pucuk menjadi lembut dan batang dapat dilipat tanpa patah. ‎ ‎Sementara pada metode kukus, pucuk dikukus sekitar 60 detik menggunakan api besar.


Selama proses tersebut, pucuk diaduk setiap 10 detik dengan penyesuaian terhadap kondisi bahan. ‎ ‎Setelah layu, pucuk kemudian digiling secara manual menggunakan kedua tangan di atas tampir. Penggilingan dilakukan terus-menerus dalam satu arah selama sekitar 25–45 menit. ‎


Teknik tersebut menjadi bagian penting dalam pengolahan karena dilakukan tanpa mesin. Pucuk disatukan kemudian digiling dengan gerakan berputar searah hingga proses selesai. Pucuk yang telah digiling kemudian masuk ke tahap pengeringan menggunakan wajan gerabah atau stainless. ‎Proses dilakukan sambil terus mengaduk pucuk. Pengaturan panas menjadi perhatian utama.


Pada awal pengeringan digunakan api panas sekitar 100–150 derajat Celsius, kemudian diturunkan menjadi 80–100 derajat Celsius pada pertengahan proses dan 50–80 derajat Celsius menjelang akhir. ‎Lama pengeringan berkisar 1–3 jam, tergantung jumlah pucuk yang diolah. ‎


‎Setelah kering, teh disortir untuk memisahkan bahan selain teh, seperti rumput, sekaligus memisahkan daun besar yang tidak menggulung, batang dan bubuk. ‎ ‎Pengolahan dilanjutkan dengan pengeringan akhir. Tahap ini menggunakan api kecil sekitar 15 menit, kemudian dilanjutkan sekitar 15 menit tanpa api sambil teh didinginkan menggunakan kipas. ‎buku pengolahan tradisional.


‎ ‎Teh yang sudah benar-benar dingin baru dikemas. Materi tersebut menyarankan penggunaan kantong aluminium foil atau plastik PE baru yang ditutup kedap udara untuk membantu menjaga kualitas produk. ‎ ‎Dengan teknik sederhana tersebut, pengolahan pucuk teh dapat dilakukan dalam skala kecil tanpa bergantung pada mesin.


Bagi petani, keterampilan mengolah hasil panen menjadi produk jadi juga membuka ruang untuk mengenal teh tidak hanya sebagai komoditas kebun, tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai tambah.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kebun News