November 2026 Berpotensi Kering, Pemerintah Perkuat Antisipasi di Perkebunan Kopi
KebunNews.com – Dilansir dari situs resmi Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian, Jumat (18/9/2026), pemerintah mendorong pekebun melakukan antisipasi sejak dini untuk menjaga produktivitas dan kualitas kopi nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan perubahan iklim perlu dihadapi melalui langkah antisipasi yang terukur, termasuk penerapan teknologi dan budidaya adaptif.
“Mitigasi terus diperkuat melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ujar Mentan Amran.
Berdasarkan pemetaan potensi kekeringan dan sentra produksi kopi untuk periode September-November 2026, sekitar 28 persen areal kopi pada wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kondisi kering.
Ditjenbun menegaskan, angka tersebut merupakan potensi berdasarkan prediksi iklim, bukan berarti areal kopi tersebut telah mengalami kerusakan akibat kekeringan.
Kondisi aktual tetap dipengaruhi curah hujan, ketersediaan air, karakteristik lahan dan kemampuan kebun beradaptasi. Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto juga mengatakan kesiapsiagaan perlu dilakukan sebelum kondisi ekstrem terjadi. Karena itu, adaptasi iklim perlu menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari.
“Mitigasi harus menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari. Melalui pengelolaan air yang baik, konservasi tanah, pemanfaatan informasi iklim, dan penerapan praktik budidaya adaptif, produktivitas perkebunan dapat tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim,” ujar Heru.
Di tingkat kebun, langkah yang dapat diterapkan antara lain membuat rorak dan lubang biopori untuk membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Pengelolaan tanaman penaung juga didorong untuk menjaga mikroklimat sekaligus mengurangi kehilangan air.
Pemerintah turut menyediakan benih kopi yang adaptif terhadap perubahan iklim di sejumlah sentra produksi. Dukungan lainnya berupa benih dan pupuk organik untuk wilayah perkebunan kopi yang terdampak bencana di Sumatera.
Sarana konservasi air seperti embung, pompa air, biopori dan rorak juga dapat dioptimalkan untuk menghadapi periode kering. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi kopi nasional di tengah perubahan kondisi iklim.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles