Aplikasi Biotron Harus Tepat Sasaran, Bukan Sekadar Ditabur di Permukaan Tanah
KebunNews.com - Penerapan Biotron dalam pertanian perlu dilakukan secara tepat agar material berbasis biochar tongkol jagung dapat bekerja di sekitar zona perakaran tanaman. Penempatan Biotron pada area piringan dan kedalaman yang sesuai menjadi salah satu hal penting dalam penerapannya.
Hal tersebut disampaikan Budiono, S.P., MM dari Kementerian Pertanian/BBPP Binuang dalam Webinar “Pertanian Rendah Karbon Berbasis Inovasi Biotron” pada Senin, 5 Oktober 2026. Budiono menjelaskan bahwa Biotron yang berbasis biochar tongkol jagung (BTJT) tidak hanya berfungsi sebagai material pembenah tanah.
Biochar tersebut juga dapat menjadi habitat aktif bagi mikroba dan biofilm. “Biochar tongkol jagung bukan sekadar material pembenah tanah, tetapi dapat menjadi habitat aktif bagi mikroba dan biofilm,” jelas Budiono.
Melalui proses bioclogging, pori-pori biochar mengalami perubahan secara dinamis dan menjadi ruang hidup bagi konsorsium mikroba. Aktivitas tersebut membantu menyediakan nutrisi secara lebih stabil serta mendukung distribusi bakteri yang menguntungkan.
Namun, hara yang dilepaskan tetap perlu bergerak melalui matriks tanah hingga mencapai zona penyerapan akar. Karena itu, penempatan Biotron menjadi bagian penting dalam penerapannya.
Ditempatkan Sedalam 5–7 Sentimeter
Budiono menjelaskan, Biotron sebaiknya tidak sekadar ditaburkan di permukaan tanah. Aplikasi dilakukan secara presisi pada area piringan tanaman dengan membuat parit melingkar sedalam 5–7 sentimeter. Penempatan tersebut ditujukan agar Biotron berada di zona aktif akar muda.
Cara ini juga membantu mempertahankan kelembapan dan mendekatkan material dengan sistem perakaran tanaman. Dengan posisi yang lebih dekat dengan akar, material yang diaplikasikan dapat berada pada area yang berkaitan langsung dengan pertumbuhan tanaman.
Dosis Berbeda Sesuai Pertumbuhan
Tanaman Penerapan Biotron juga dibedakan berdasarkan fase pertumbuhan tanaman. Saat penanaman, digunakan 5 kilogram Biotron bersama 50 kilogram kompos sebanyak satu kali pada dasar lubang tanam.
Untuk perawatan rutin, aplikasi dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada awal dan akhir musim hujan. Dosisnya disesuaikan dengan umur serta tajuk tanaman. Sementara untuk pupuk susulan, digunakan rasio 1:1 antara pupuk dan Biotron pada area piringan dengan kedalaman 5–7 sentimeter.
Penerapan yang memperhatikan lokasi, kedalaman, waktu, dan dosis tersebut menjadi bagian dari pendekatan penggunaan Biotron untuk mendukung sistem pertanian rendah karbon.
Dengan demikian, pemanfaatan Biotron tidak hanya bergantung pada material biochar yang digunakan, tetapi juga pada ketepatan teknik aplikasinya agar dapat ditempatkan di sekitar zona perakaran tanaman.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles