Potensi Jambu Mete Indonesia Masih Besar, Produksi Benih Jadi Perhatian
Kebunnews.com - Potensi pengembangan jambu mete di Indonesia masih terbuka, salah satunya ditopang oleh keberadaan sumber benih di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Karena itu, ketersediaan benih bermutu menjadi salah satu perhatian dalam mendorong pengembangan dan peremajaan tanaman jambu mete.
Dikutip Kamis (20/8/26), Ir. H. La Ode Hamalin, M.Si., Ketua Team Teknis Mete CV Perapi mengatakan, umber benih Muna memiliki perjalanan panjang dalam pengembangan jambu mete.
Tanaman ini telah dibudidayakan masyarakat sejak masa penjajahan Belanda dan kemudian diperluas melalui program peremajaan serta penghijauan pemerintah daerah pada era 1970–1980an.
Pada tahun 2012, Populasi Muna ditetapkan sebagai sumber benih nasional. Saat itu tercatat pohon induk terpilih milik 11 petani dengan luas 29,5 hektare dan jumlah 2.924 pohon. Pengembangan sumber benih kemudian terus diperkuat melalui penelitian.
Hasil penelitian Kementerian Pertanian bersama BRIN pada 2026 mencatat luas sumber benih Muna mencapai 29,4 hektare dengan 1.523 pohon. Potensi produksinya mencapai 13.821.257 biji, sedangkan jika digabungkan dengan potensi yang telah tercatat sebelumnya, benih Muna diperkirakan mencapai sekitar 14,65 juta biji atau setara 104,5 ton.
Potensi tersebut menjadi bagian dari ketersediaan benih jambu mete secara nasional. Data Ditjen Perkebunan menunjukkan potensi ketersediaan benih jambu mete Indonesia pada 2024 mencapai 39,79 juta butir.
Sulawesi Tenggara sendiri tercatat memiliki potensi 624.573 butir pada tahun yang sama. Pengembangan benih juga telah dilakukan di wilayah sentra produksi. Pada 2022, Nursery Bombana memproduksi 100.000 batang benih jambu mete Populasi Muna untuk mendukung perluasan dan peremajaan tanaman.
Sebagian benih tersebut disalurkan untuk pengembangan jambu mete di Sulawesi Tenggara. Bagi petani pemula, peluang pengembangan jambu mete dapat dimulai dengan menyiapkan lahan dan memilih benih yang sesuai.
Budidayanya pun tidak harus dilakukan secara monokultur. Tanaman terna dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan lahan. Namun, pengembangan jambu mete masih menghadapi sejumlah tantangan.
Produksi tanaman sangat dipengaruhi kondisi musim, sementara buah semu yang dihasilkan setelah biji dipanen juga belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan usaha yang tidak hanya berfokus pada biji mete.
Pemanfaatan buah semu dan hasil samping lainnya dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperluas manfaat ekonomi jambu mete bagi petani.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles