Budidaya Sayuran Hidroponik: Langkah Mudah Memanfaatkan Lahan Terbatas
KebunNews.com - Budidaya sayuran dengan sistem hidroponik dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin bercocok tanam di lahan terbatas. Melalui persiapan instalasi, pemilihan benih, dan penyemaian yang tepat, kegiatan budidaya dapat dilakukan secara lebih terarah tanpa harus menggunakan lahan pertanian yang luas.
Hal tersebut dibahas dalam webinar Gamal Institute bertajuk “Budidaya Sayuran Sistem Hidroponik: Solusi Pertanian Modern untuk Hasil Maksimal di Lahan Terbatas” pada Selasa, 20 Oktober 2026. Webinar ini menghadirkan Dr. Arfiani, S.P., M.Si., dosen bidang Komunikasi dan Penyuluhan Pertanian, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Arfiani menjelaskan tahapan awal budidaya hidroponik, mulai dari menyiapkan peralatan dan bahan, memilih benih, hingga melakukan penyemaian bibit sebelum dipindahkan ke instalasi utama. Persiapan peralatan perlu disesuaikan dengan sistem hidroponik yang akan digunakan.
Perlengkapan yang dapat disiapkan antara lain pipa paralon atau baki sebagai wadah netpot, aerator dan batu aerasi untuk membantu memasok oksigen ke air, selang, kain flanel untuk sistem sumbu, media tanam, serta tray semai. Selain itu, alat ukur pH dan Total Dissolved Solids (TDS) diperlukan untuk memantau kondisi air dan larutan nutrisi.
Pemantauan tersebut membantu petani mengetahui kondisi media budidaya agar sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman. Tahap berikutnya adalah memilih benih yang akan disemai. Dalam materi webinar, benih dapat direndam selama sekitar lima menit sebagai pemeriksaan awal.
Benih yang tenggelam umumnya diprioritaskan untuk penyemaian, sedangkan benih yang mengapung perlu diperiksa lebih lanjut karena posisi mengapung atau tenggelam saja belum dapat memastikan daya kecambahnya. Penyemaian dapat dilakukan menggunakan rockwool yang dipotong berukuran sekitar 2,5 × 2,5 × 2,5 sentimeter.
Media tersebut dibasahi hingga lembap, kemudian dibuat lubang kecil menggunakan tusuk gigi untuk menempatkan benih. Rockwool yang telah berisi benih selanjutnya diletakkan di dalam tray semai. Selama proses perkecambahan, kelembapan media perlu dijaga melalui penyiraman, terutama pada pagi hari, serta pemberian pencahayaan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Setelah berkecambah dan tumbuh sekitar 7–10 hari, bibit dapat dipindahkan bersama rockwool ke dalam netpot. Selanjutnya, bibit ditempatkan pada instalasi hidroponik untuk melanjutkan pertumbuhan. Kualitas air juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
Air tanah atau air sumur dapat digunakan sebagai pilihan, tetapi kualitas dan kandungan mineral terlarutnya perlu diperiksa terlebih dahulu. Pengukuran pH dan TDS membantu petani memantau kondisi air maupun larutan nutrisi yang digunakan dalam budidaya.
Melalui tahapan yang terencana, budidaya hidroponik dapat diterapkan pada ruang terbatas, seperti halaman rumah atau area pekarangan. Persiapan instalasi yang sesuai, pemilihan benih, penyemaian yang baik, serta pemantauan kualitas air menjadi langkah awal untuk mendukung pertumbuhan sayuran secara optimal.
Webinar ini menjadi bagian dari upaya berbagi pengetahuan mengenai penerapan teknologi pertanian yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan memahami tahapan dasar budidaya hidroponik, masyarakat diharapkan mampu mengoptimalkan ruang yang tersedia untuk menghasilkan sayuran secara mandiri.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles