Pascapanen Kakao: Kunci Meningkatkan Kualitas dan Daya Saing di Pasar
KebunNews.com - Penanganan pascapanen menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas biji kakao dan meningkatkan daya saing produk di pasar. Pemilihan buah matang, fermentasi terkontrol, pengeringan, hingga penyortiran perlu dilakukan secara tepat agar biji kakao memiliki mutu yang lebih konsisten dan nilai jual yang lebih tinggi.
Pentingnya penanganan pascapanen tersebut dibahas dalam webinar Gamal Institute bertajuk “Optimalisasi Pascapanen dan Fermentasi: Meningkatkan Kualitas dan Nilai Tambah Hasil Pertanian” pada Selasa, 20 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan Rubani, petani sekaligus praktisi kakao lokal dan pengurus Asosiasi Petani Kakao Gunungkidul, Yogyakarta (Galih), sebagai narasumber.
Dalam materi webinar, dijelaskan bahwa biji kakao yang tidak melalui fermentasi optimal cenderung memiliki mutu yang tidak seragam, berisiko berjamur, beraroma apek, serta memiliki rasa pahit dan sepat yang kuat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi penerimaan produk di pasar. Untuk menghasilkan biji berkualitas, proses pascapanen perlu dimulai dengan pemilihan buah yang matang dan sehat.
Buah yang cacat atau terserang hama harus dipisahkan, kemudian biji basah disortasi sebelum memasuki tahap fermentasi. Fermentasi dilakukan menggunakan kotak yang dilapisi daun pisang dan ditutup dengan karung goni. Dalam materi webinar, tahap awal fermentasi berlangsung selama 48 jam sebelum biji dibalik dan dicampur secara merata untuk mendukung proses berikutnya.
Selama proses berlangsung, petani perlu memantau suhu, pH, dan kelembapan. Uji belah juga dilakukan untuk melihat perkembangan biji dan membantu mengevaluasi hasil fermentasi. Pengawasan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi kualitas produk. Setelah fermentasi, biji kakao dikeringkan hingga mencapai kadar air sesuai standar yang dituju.
Biji kemudian disortasi untuk membuang produk cacat dan benda asing, dikelompokkan berdasarkan ukuran atau mutu, serta dikemas sesuai kebutuhan penyimpanan dan pemasaran. Penerapan tahapan pascapanen yang baik berpotensi meningkatkan nilai ekonomi kakao.
Berdasarkan materi webinar, harga biji kakao dapat berkisar Rp50.000–Rp75.000 per kilogram dan mencapai Rp100.000–Rp150.000 per kilogram untuk kualitas tertentu, bergantung pada mutu dan kondisi pasar. Rentang tersebut bukan harga yang berlaku seragam di seluruh wilayah.
Konsistensi mutu juga menjadi aspek penting untuk memperluas peluang pemasaran, termasuk memenuhi kebutuhan pembeli yang mensyaratkan kualitas tertentu. Karena itu, keterampilan petani dalam mengelola fermentasi, pengeringan, dan penyortiran perlu terus diperkuat.
Melalui webinar ini, Gamal Institute menyoroti bahwa peningkatan nilai tambah kakao tidak hanya bergantung pada proses budidaya, tetapi juga pada ketepatan penanganan setelah panen. Dengan pascapanen yang lebih terarah, petani diharapkan dapat menghasilkan biji kakao berkualitas dan meningkatkan daya saing produknya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles